Kamis, 14 Juli 2016

Semoga Gak Ada yang Baca !!

Wisudanya udah, nikahnya yang belum :p


Hehehe, sebenarnya tulisan ini bukan ranah publik yang bisa dibaca. Tapi berhubung blog ini jarang-jarang ada yang buka, yah saya tuliskan saja. Ini hanyalah segelumit dari isi hati seorang pria, yang saat ini lagi hangat-hangatnya dengan pertanyaan, "Kapan nikah?".

Baru saja kita  merayakan Hari Raya Idul Fitri 1437 H, bertepatan dengan bulan Syawal. Kalo saya bilang mah ini bulan nikah. heheh :D.

Kalo dibilang, usia saya saat ini sudah 25 tahun, sudah pas-pasnya buat nikah.  Usia saat Rasulullah Shallahu alaihi wasallam menikahi Ummul Mukminin, Siti Khadijah. Tapi saya mah belum juga ada tanda-tanda untuk mengarah kesana :(.

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat saya yang saya jumpa di IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, kalo boleh saya bilang beliau orang yang sangat pantas untuk bercerita soal pernikahan. Alhamdulillah, beliau nikah muda, dan saat ini sudah dikarunia 2 orang laki-laki. Saat jumpa beliau, beliau bercerita pengalaman beliau saat menikahi istrinya waktu dulu. Sebelum menyampaikan niat suci ini, beliau sudah mendekati Sang Pemilik hati kedua orang tuanya sang calon mempelai wanita. Dalam ceritanya beliau menyampaikan niat baiknya kepada kedua orang tua sang calon, dengan segala argumen diberikan. Alhamdulillah, beliau diterima. Lanjut dengan hari H dan segala syarat ini itu. Memang, jika niat suci ikhlas karena Allah Subhana wata'ala, semua akan Allah permudah. Beliau mengatakan, hanya punya segini, dan keluarganya menerimanya.

Yang menjadi suara-suara aneh malah datang dari para tetangga si calon ini. Suara-suara aneh itu mengatakan, "Kok tiba-tiba nikahan ya, mungkin sudah hamil duluan kali ya, dan bla bla bla", beliau menuturkan sambil tersenyum. Beliau pernah mengatakan, bahwa beliau pengen punya anak yang banyak.

Beliau menasehati saya, segeralah menikah. Yakinlah rezeki itu sudah Allah jamin, malah jika kita berkeluarga pintu rezeki itu terbuka lebar. Kemudian beliau bertanya, tentuin tanggal pernikahan biar ada target yang akan di capai. Dan saya berani jawab tanggal 17 bulan 12 tahun 2016. Jika meleset (Meminang bulan 12 2016, menikah Maret -  Juni 2017)

Kalo boleh jujur, saya saat ini sudah sangat mampu menafkahi lahir dan bathin. Saya sangat yakin soal ini, khan Allah yang menjaminnya.

Pertanyaan horor saai Eid :D


Tawakkalnya dikencengin, doanya juga. Saya berdoa semoga tidak sampai usia ke 26 saya harus sudah menikah.

Memenuhi separuh dhien.

Aamiin ya rabbal alamin.


Suara Hati Anak Lajang di Akhir Zaman.
Banda Aceh, 9 Syawal 1437 H /  14 Juli 2016 M


Amiruddin Simbolon

Minggu, 12 Juni 2016

M U N A J A T

Banda Aceh, 8 Ramadhan 1437 H / 13 Juni 2016 M. Pkl. 06.53

Duhai Penguasa Hari Kemudian, bilakah Engkau berkenan menutup lembaran kehidupan kami yang buruk? Bilakah Engkau berkenan menghapuskan catatan-catatan yang bisa memalukan kami kelak, pada hari yang kami tidak bisa kembali?

Ya Allah, demi mengingat hari demi hari yang kami jalani, seharusnya kami menangis. Tapi, kami tetap biasa saja, seolah  esok tak ada kematian dan dak ada hari kebangkitan.

Ya Allah, demi mengingat kelakuan kami, sepantasnya kami pesimistis dan khawatir bahwa tak ada tempat yang baik bagi kami walaupun setapak kaki sebab kami begitu buruk, sebab kami begitu bersalah. Tapi, demi melihat kebijaksanaan maaf dan ampunan-Mu yang tiada berbatas, bolehlah juga kami berharap bahwa Engkau tidak akan mempermalukan hamba-hamba-Mu ini.

Engkaulah Pemilik Hari Akhir, dengan segala keputusan baik dan buruk kejadian ada di tangan-Mu. Bukan manusia! Manusia miskin maaf, sempit memberi kesempatan. Tapi, Engkau? Maaf-Mu luas, begitu juga dengan kesempatan-Mu.


Salam, 



Amiruddin bin Ittom Simbolon

M U N A J A T

Banda Aceh, 8 Ramadhan 1437 H /  13 Juni 2016 Pkl. 06.40

Pantaslah bila hamba hidup dengan kehidupan yang penuh dengan keburukan, sebab hamba berjalan tanpa kebaikan atau sedikit kebaikan.

Hamba sebenarnya tahu bahwa orang-orang baik akan di anugerahi kehidupan yang baik, maka untuk hidup baik perlu langkah-langkah yang baik. Tapi pikiran pendek hamba berkata, untuk baik ada cara yang lebih cepat, yaitu berbuat zalim, menipu, dan berbohong. Duhai Yang Maha Melindungi, ternyata pegetahuan manusia itu terbatas. Apa yang hamba anggap baik, malah nerusak kehidupan hamba sendiri. Kini, hamba mau sadar sepenuh hati bahwa hamba harus berbuat baik. Tidak ada waktu untuk berbuat buruk. Sebab sampai kapan hamba bisa hidup enak, bila hidup selalu merugikan orang lain dan sedikit berbuat kebaikan.

Ya, Allah, tolonglah hamba dengan memberikan keridhaan dan kemudahan bagi hamba untuk berbuat baik. Sediakan ladang amal selalu untuk hamba agar hamba bisa berbuat baik dan buatlah hamba mampu berbuat baik manakala ladang amal sudah terhidang di depan mata. Aamiin.

Salam,

 

Amiruddin bin Ittom Simbolon

Belajar Dari Pohon Pisang

Sobat, seberapa sering sobat melihat pohon pisang ? Jarang, sering, atau malah punya kebun pohon pisang ? Atau malah sering banget makan goreng pisang ? Hehehe, kalo yang ini saya juga suka banget. Kalau ada diantara sobat yang pelihara pohon pisang, apakah sobat pernah mantengin pohon pisang dari atas sampai akar ? Hmmm, mungkin sobat akan bilang, "Ngapain juga mantengin pohon pisang, apa serunya sih ?"

Sobat dan kebanyakan kita akan menganggap phon pisang ini adalah pohon yang biasa-biasa saja. Kan cuma pohon pisang, yang enak cuma buahnya saja, ngapain juga liatin pohonnya. Tapi, kalu saja sobat mengamati dengan seksama pohon pisang, bukan hanya indera penglihatan, namum juga dengan mata hati, maka sobat akan melihat ada filosofi yang mempunyai makna yang sangat mendalam, dan ingin menyampaikan pesan yang luar biasa kepada sobat. Apa pesannya??

Seperti yang selama ini sobat ketahui, pohon pisang hanya berbuah sekali sepanjang hidupnya. Kalau belum berbuah, mau dipotong berapa kalipun, itu pohon pisang bakal terus-menerus tumbuh sampai dia berbuah. Nah, itulah spesialnya pohon pisang. Nggak percaya Sob ? Coba saja tebas pohon pisang Sob (pohon pisang sendiri ya Sob, jangan punya tetangga bisa panjang urusannya nanti, hehe). Nah, terus pesannya apa ?

Pohon Pisang

Pohon Pisang
Sesuai dengan filosofi pohon pisang tadi, kita dapat menangkap pesan kehidupan. Pesan sederhana, tapi mulia sekali. Pesannya, hidup adalah tumbuh dan berbuah. Dua kata yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena manusia tidak hanya tumbuh dalam hidupnya, tapi dia juga harus berbuah. Karena manusia yang tumbuh, namun tidak pernah berbuah hanya akan menjadi beban buat orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Lho kok bisa jadi beban berat sih ? ya coba bayangkan Sob, untuk tumbuh kita pasti perlu memerlukan banyak sumber daya.

Tumbuh dan berbuahlah, meski mungkin sekali saja dalam hidup lalu mati.

Banda Aceh, 7 Ramadhan 1437 H / 12 Juni 2016


Amiruddin bin Ittom Simbolon

Sabtu, 04 Juni 2016

Ramadhan Di Negeri Orang (Kembali)

Judul di atas terasa menyesakkan bagiku. Ya, sangat menyesakkan. Kembali, bertemu Ramadhan jauh dari keluarga, dan orang-orang yang aku sayangi. Ini adalah Ramadhan ke-III kalinya aku jalani di negeri rantau. 

Hari ini adalah tanggal 28 Sya'ban 1437 H, 2 hari lagi kita umat Muslim akan bertemu dengan tamu yang sangat Mulia, tamu yang ditunggu-tunggu kedatangannya, tamu yang agung yaitu bulan Ramadhan. Alhamdulillah :).

Jujur saat ini saya seeeeeeediiiiiiih banget, sedihnya mah karena Ramadhan ini kembali jauh dari orang-orang yang saya cintai, alias menyendiri kembali. Yap, bahasa kerennya menikmati momen Ramadhan bersama kawan-kawan di sini.

Di Kota ini (Banda Aceh), sangat jarang mendengar orang bangunkan kita sahur, Beda jauh kalo kita tinggal di kampung. Suara kentongan, sorakan anak-anak remaja bangunkan kita sahur. Aku rindu.

Sering kali aku merasa kesepian, bukan karena aku tinggal di pelosok, namun aku merasa banyak 'suara yang hilang' dalam hidupku.. Tapi, aku bersyukur di sini juga banyak teman-teman merasakan hal yang sama. Yah, 'nasib' anak perantau yang jauh dari keluarga.Satu rasa, satu 'nasib'. 

Merupakan suatu kegembiraan tersendiri saat bisa berbuka puasa bareng keluarga, saling berbagi kisah, saling tertawa, dan menikmati masakan terlezat sejagad buatan bunda tercinta. 

Seperti kata pepatah, akan selalu ada hikmah di balik peristiwa.  Semoga Ramadhan di tahun ini kita semua bisa 'diwusida' dengan predikat taqwa. Aamiin aamiin ya rabbal 'alamin.

Adik Fatimah, Bunda, Kakak Hayati dan Keponaan Salsabila

Me, Amiruddin bin Ittom Simbolon

Saya dan Ibunda Tercinta ( Idul Fitri 2 tahun lalu )


 Banda Aceh, 28 Sya'ban 1437 H / 4 Juni 2016.



Amiruddin bin Ittom Simbolon

 

 

Selasa, 31 Mei 2016

Itu Tak Penting, Sungguh Tak Penting !!


Aku selalu tak peduli apapun yang orang lain katakan tentang aku. Tak peduli mereka suka atau tidak. Tak pedulu mereka hargai atau tidak. Tak peduli orang mau berterima kasih atau kebaikan yang telah diberikan atau tidak.

Karena, semua itu tidak penting !

Yang terpenting dalam hidupku adalah, bagaimana aku bisa bermanfaat dan berbagi kepada mereka. Menebar senyuman dengan bersyukur.

Berdamai dengan hati jauh lebih berharga daripada mengharapkan perlakuan orang kepadaku.

Lakukan, tinggalkan, dan lupakan !

Mulai lagi, lakukan, tinggalkan, dan lupakan !!

Aku hanya menginginkan setiap nafas, tenaga otot, pikiran, kebaikan yang aku lakukan untuk memuaskan hatiku.

Aku tau jejak dan catatan ini akan dibalas oleh Allah subhanawata'ala dengan cara yang sangat mengagumkan.

dan, suatu saat nanti aku akan mengingatnya dengan tersenyum. 


Banda Aceh, 1 Juni 2016
(Rindu menulis kembali)

Minggu, 14 Februari 2016

Calon Pemain Timnas U - 50 Masa Depan Indonesia

Footbal in Stadion Rumpit

Alhamdulillah sebulan terakhir ini ane absen dalam persepakbolaan Bina Jiwa FC, berhubungan ada sesuatu hal dan beberapa hari yang lalu saya kembali merumput dan bertugas sebagai penjaga gawang. Skor akhir 3 v 3.

Banyak kebahagian ketika kita bermain footbal, diantara yang terutama adalah silaturrahminya. Saya orang baru di RSJ, masih banyak rekan-rekan di RSJ yang saya belum kenal. Kita semua berbaur, yang di kantor sebagai atasan, sebagai pejabat jika dilapangan semua sama, tetap respek dan saling menghargai tentunya. 

Saat di lapangan, ane bisa melihat langit biru yang luas, subhanallah indah sekali. Perasaan tenang dan nyaman saat melihat alam yang indah itu. 

Saat di lapangan yang beratapkan langit itu, ane merasakan sensasi yang luar biasa, sensasi itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, berupa ketentraman yang menyejukkan qalbu.

Alhamdulillah, thanks Allah anak nikmat yang begitu banyak ini. Jadikanlah hamba orang yang taat kepada-Mu dan matikanlah hamba dalam keadaan khusnul khotimah. aamiin.


Amir pemain timnas U-50 masa depan RI


Banda Aceh, 2 Feb 2016 21.26 WIB

Salam


Amiruddin Simbolon